Akan Maharani

Kaguman yang mengendap haruskah lenyap
Saat sadar gundah tak lagi dapat menggugah

Rani, dimanakah engkau kini?
Lihatkah engkau awan mendung
Yang karenanya langitpun berderai
Tuk sadarkanku dalam lamunan

Semoga kau tak peduli akanku sekarang
Tak ingin kulihat ibamu akanku
Tak ingin kulihat pudar ceriamu
Jangan pedulikan aku

Dengarkanlah nyanyian hujan
Atas angan tenggelam
Meski angan adalah khayal
Berharap senyummu tak kan kelam
Continue Reading

Untuk Maharani

Malam berganti hari ku belum pejamkan mata
Masih terngiang wajahmu dibenak
Apakah semua berawal dari senja?
Ya, senja kemarin itu
Awalnya biasa kini gulana
Ada rasa terbakar saat kau dengan yang lain
Entah dengan siapa aku merasa tak rela
Pandangmu padanya
Tuturmu padanya
Dengarmu padanya
Ada sebersit tak rela
Tapi apa daya aku bukan siapa-siapa
Apakah mungkin ini hanya sesaat?
Tapi aku tak rela

Yang kutulis adalah nyata saat ini. Entah bagaimana nanti. Aku hanya ingin abadikan saat ini untuk nanti. Bahwa ini memang terjadi.

Hal yang lumrah mengagumi yang indah. Cantik tergambar pada pesona jiwa. Apakah berlebih saat kekaguman itu mengendap di jiwa. Yang kutahu mengagumi dan mencinta bukan dosa.

Awalnya biasa, ada gejolak setelahnya. Ada sedikit percik saat kau dengan yang lain. Setiap pandanganmu, tuturmu juga senyummu pada yang lain. Jujur aku tak rela. Entah kenapa begini.

Kesempatan saat bersama tak bisa kumanfaatkan tuk jelaskan padamu. Mungkin terlalu singkat juga terlalu capat. Malahan yang kutakutkan ini hanya sesaat. Telepas apakah sesaat atau tidak, saat itu kau buatku terdiam tanpa kata.

Ingatkah kau hujan yang mengguyur di siang itu? Saat acara penyatuan visi. Saat semua merenung sambil berjabat tangan dengan yang lain. Tahukah apa yang aku pikirkan? Andai ku dapat menggenggam jemarimu. Aku ingin katakan semuanya lewat hujan karena memang bibir ini tak mampu bicara.
Continue Reading

Akhirnya ICONEV Juga....!!!


Sabtu (22/11) Internet Club (IC) mengadakan ICONEV (IC ONE Vision) yang ditujukan bagi para staff baru. ICONEV berlangsung selama dua hari, 22-23 November diadakan di Hotel Wina Wisata Bandungan. Dan ini sudah menjadi agenda tahunan IC (baca:aisi) yang bertujuan untuk menyatukan pandangan dalam organisasi.

Setelah tahun lalu gagal ikut ICONEV dikarenakan aku gagal dalam perekrutan staff IC tahun lalu. Tak apalah. Akhirnya ICONEV juga!! ( Kang Kipli, aku wis mbok ICONEV’i ki hehehe.. thaks all!)

Sabtu pagi, semua berkumpul di IC. Setelah diadakan briefing sekitar pukul Sembilan, berangkat pukul 9.25 dengan menggunakan bus yang telah disewa. Untuk para staff baru naik bus didampingi manager departemen/staff Inti. Selebihnya menggunakan sepeda motor.

Jumlah kursi yang terbatas (atau karena kebanyakan orang ya?) membuat yang nggak kebagian tempat duduk untuk rela berdiri termasuk aku sendiri. Tak apa, semua larut dalam kebersamaan. Didekatku ada Evo, Zefli juga Lutfan, kebetulan sama-sama dari dept Litbang. Kami berdiri di dekat pintu depan.

Suasana pagi masih terasa. Cuaca mendung sisa hujan yang mengguyur fajar tadi. Bersandar ditiang besi dalam bus, dengan kaki menopang badan. Badanku terasa lemah, tadi aku belum sempat sarapan. Sebenarnya itu bukan alasan tapi itulah sebab akibat. Hehe..

Akhirnya bis sampai di Wina Wisata sekitar 10.50, istirahat sejenak kemudian semua berkumpul untuk mendengarkan arahan dari panitia. Disusul serangkaian acara yang telah dipersiapkan.

Ada game menggambar. Mas Wahyudi yang memandu game ini. Kita para staff diminta untuk menggambar pemandangan, ‘yang indah-indah lah’, katanya. Wah… jujur soal gambar-menggambar aku paling nggak bisa. Ingat waktu SMA dulu, waktu pelajaran Fisika (lupa bab apa itu). Menggambar gerakan bandul aja aku kerjain di Asrama (aku jadikan PR), pokoknya kalo gambar-menggambar rak iso lah.

Ini disuruh menggambar pemandangan. Kalo pemandangan, dibenakku tak lepas dari gunung, sawah, pohon, matahari, awan, burung, jalan dan rumah-rumah. Sudah lama aku nggak gambar itu. Es-de lah pasti. Menggambar disecarik kertas kemudian dikumpulkan. Hampir semua menggambar bertemakan alam, kecuali satu orang yang menggmbar menara Pisa. Ya sebuah menara tapi di bikin miring gitulah hehehe…

Gambar kita memang seperti anak te-ka/es-de. Dikatakan kalo gambar kami seperti anak kecil, hanya fisik(kami) saja yang besar. No problem just comment. Ya mungkin kalo kami orang arsitektur mungkin akan menggambar yang nggak dibilang anak kecil. Hehehe.. ya ini pendapat atas pernyataan. Selesai manggambar, makan siang kemudian istirahat.

Jam 14 berkumpul lagi. Ada Pak Sutino yang memberikan wejangan tentang membangun organisasi modern juga menyangkut meningkatkan nilai diri. Sangat menarik, sayang sekali menurutku waktunya kurang lama. Tak apa. Matursuwun pak.

Sore hari ada game psikotes (begitu yang dibilang Mas Singit eh salah, Mas Sigit. Damai Mas… hehehe.. ). Pada game ini kami diminta untuk menuliskan angka satu sampai sebelas secara vertical (urut kebawah) kemudian diminta untuk menuliskan jawaban sesuai perintah yang dibacakan Mas Sigit. Setelah semua pertanyaan telah dijawab. Beberapa dari kami diminta untuk menuliskan di papan tulis depan. Termasuk aku, itu setelah Gandrung cs meneriakkan yel-yel ‘kiwil..kiwil..kiwil..’ agar aku ke depan. Kok kiwil yang dipanggil aku yang maju? Itulah panggilan sayang anak-anak IC padaku. Sial! Hwahahaha..

Setelah yang di depan menulis, Mas Sigit menjelaskan arti dari psikotes kali ini. Aku benar-benar dibuat sal-ting waktu jawabanku mendapat giliran untuk dijelaskan (diperjelas malah). Lebih-lebih Mas Kipli yang memperjelasnya. Gila.. Semakin sal-ting saja. Aku nggak bisa nulis detilnya karena aku nggak kuasa, menyangkut someone. Aduh..aduh..

Acara sore selesai dilanjutkan setelah magrib sekaligus makan malam. Menikmati nikmatnya semangkok bakso di sore yang dingin bersama kawan-kawan. Setelah itu menuju kamar dan mandi.

Setelah makan malam. Acara flashback IC. Diisi oleh alumni IC, ada Mas Anan, Mbak Heni dan Bang Jo. Menceritakan awal mula berdirinya IC, perjuangan awal hingga bangkit dari kevakuman yang sempat melanda. Dukung kami dari belakang!!!

Kemudian dilanjutkan game kerjasama tim yang di pandu Mas Yogie. Game yang bermakana percaya diri, kerjasama, kekompakan dan rasa saling percaya. Sangat seru, semoga bermanfaat bagi kami selanjutnya.

Dilanjutkan acara yang diisi oleh dr. Iwan, seorang pakar seksolog. Diisi oleh game dan sedikit pengetahuan. Game dari pakar seksolog tak lepas dari gelak tawa. Serulah pokoknya!!

Acara selanjutnya adalah ‘Idealisme’ yang diisi Mas Yogie lagi. Membangun idealisme, semua tak lepas dari komitmen dan kerjasama. Komitmen terbentuk dari niat, niat dimulai dari janji. Juga ‘mudah jangan dipermudah’. Trims banyak mas Yog!!!

Hari telah berganti. Sekitar pukul 00 acara diisi ‘into our heart’ oleh alumni. Lampu dipadamkan. Merenung. Bukan termenung. Setelah selesai. Berjabat tangan dan saling rangkul. Kita telah menjadi keluarga.

Acara malam selesai. Kembali ke kamar. Ada sedikit kasus. Push up. No comment.
Menikmati hangatnya wedang ronde dimalam hari bersama kawan-kawan, juga ‘ganjal’ perut. 02.15 baru istirahat.

05.15 bangun. Mandi pagi. Sangat dingin, segar rasanya. Menikmati teh panas di pagi hari. Hmm… Acara hari ini dimulai dengan olahraga pagi. Juga ada game kecil dan pembagian kelompok untuk outbound pagi ini.

Setelah makan pagi outbound dimulai. Berkelompok dengan Badru, Evo, momon (Ikhwanudin), Mita, juga Lenci. Entah jam berapa outbound dimulai, tak ada jam, karena tak diperkenankan membawa ha-pe. Kami kelompok F, kelompok paling terakhir berangkat dari pos keberangkatan. Semua game yang diberikan di setiap pos dapat dilalui dengan baik, kecuali di satu pos tak dapat kami selesaikan. Tak apa. Tetap semangat dan kompak!!! Senang bisa menjadi bagian dari kelompok ini.

Kerjasama dan kekompakan dalam game ini diharapkan bisa terwujud dalam organisasi nanti, tak tertinggal di Bandungan saja.

Serangkaian acara telah selesai. 14.15 pulang.



Continue Reading

Lagi, Roy Suryo Jadi Bulan-Bulanan Hacker

Serangan hacker masih terus melanda institusi penting di Indonesia. Setelah yang teranyar situs partai Golongan Karya (Golkar) diambil alih dengan gambar rekayasa Roy Suryo yang bertelanjang dada, kini Badan Informasi dan Komunikasi (Bainfokom) Propinsi Sumatera Utara kebagian 'jatah' dijajah oleh hacker.

Serangan hacker yang masih mengatasnamakan bL4Ck_3n91n3 (baca: black engine) ini, masih menggunakan cara yang sama dengan yang mereka lakukan terhadap situs resmi Golkar. Menurut pengamatan okezone ketika mengakses situs yang beralamat www.bainfokomsumut.go.id pada pukul 15.29 WIB, Sabtu (8/11/2008), tampilan layar langsung dipenuhi dengan background warna hitam yang memajang foto rekaan Roy Suryo sebagai bayi dalam posisi duduk di atas sebuah tempat tidur.

Hacker yang cukup aktif mengobok-obok situs penting tersebut, tak banyak meninggalkan pesan untuk aksi mereka kali ini. Kalimat 'Hacked by bL4Ck_3n91n3' terpampang jelas tepat di atas foto rekayasa Roy Suryo yang tersenyum lebar dengan efek sinar pantul dari gigi Roy yang menyembul di balik bibirnya.

Sebagai penegasan rasa benci hacker ini terhadap Roy, mereka meninggalkan pesan yang sama persis dengan yang tertera di situs resmi Golkar yaitu: "I HATE ROY SURYO VERY MUCH!!!! AND YOU!??," diikuti dengan 'ucapan terima kasih' yang berbunyi: "Thx to : all IndoServ Crew /s irc.indoserv.org MainHack Brotherhood Defacer.biz blank_alpha aLie,".

Sumber http://okezone.com
Continue Reading

Doa Mencari Jodoh

Ya Tuhan, kalau dia memang jodohku, dekatkanlah…
Tapi kalau bukan jodohku, Jodohkanlah….
Jika dia tidak berjodoh denganku, maka jadikanlah kami jodoh…
Kalau dia bukan jodohku, jangan sampai dia dapet jodoh yang lain, selain aku… Kalau dia tidak bisa di jodohkan denganku, jangan sampai dia dapet jodoh yang lain, biarkan dia tidak berjodoh sama seperti diriku…
Dan saat dia telah tidak memiliki jodoh, jodohkanlah kami kembali…
Kalau dia jodoh orang lain, putuskanlah! Jodohkanlah dengan ku….
Jika dia tetap menjadi jodoh orang lain, biar orang itu ketemu jodoh dengan yang lain dan kemudian Jodohkan kembali dia denganku… Amin…
Continue Reading

Percakapan Sebelum dan Sesudah Menikah

sebelum menikah (baca dari atas kebawah)


co : ya, akhirnya. setelah penantian yang panjang

cw : apakah kamu ingin aku pergi?

co : tidak! Bahkan aku tak pernah memikirkan itu

cw : apakah kamu mencintaiku?

co : tentu saja! setiap saat!

cw : pernah kah kau berbuat curang pada ku?

co : tidak pernah! mengapa kamu bertanya demikian?

cw : maukah kau mencium ku?

co : di setiap kesempatan yang kudapat

cw : akankah kau memukulku?

co : apakah kau gila? aku bukan orang yang seperti itu

cw : bisakah aku mempercayai mu?

co : ya

cw : oh, sayang...!!!


setelah menikah (baca dari bawah keatas)
Continue Reading

Moenadjat Tjinta

Malam ini kumerasa hampa

Mungkin karena tak ada yang mencinta di cinta?

Sedang apa bunga yang pernah hiasi diri

Yang kini harumi cintanya lupakan diri

Oh.. sekarang sungguh ku bosan dengan saat ini

Aku tak salahkan keadaan namun tindakan

Aku hanya bisa berharap kan datang cinta

Tak harus sekejap tapi tak sesaat

Tuhan pasti kirimkan aku

Tapi entah kapan


23:46|12.01'08
Continue Reading

08.08'08 ku

80 hari sebelumnya

Malam sebelumnya (07/08), bertiga Jirji dan Andre nginap di Sampangan (kos Andre) bikin lamaran asisten praktikum, sekalian edit photo. Dengan modal nekat bertiga ‘iseng’ daftar asisten. Itung-itung buat nambah pengalaman plus sedikit bantu biaya kos. He..he..he.. iya kalo jadi. Doa’in aja.

Hari ini (08/08) 13.30 bareng Jirji dan Andre urus transkrip nilai buat kelengkapan pendaftaran, juga ada Angga yang mau komplain jadwal SP-nya yang bentrok dengan jam kerjanya. Kerja sambilan untuk isi waktu libur.

Sekitar 15.00 semua urusan dianggap selesai, Angga langsung pulang, Jirji ke IC. Aku pergi temenin Andre isi game di DP Mall. Rencana sore ini aku pulang ke Welahan, Jepara. Andre mewanti-wanti apa nggak kesorean aku pulangnya. Aku cuma bilang tenang aja. Jam 17 lewat kami pulang. Sempat check ATM Andre. Kamipun berpisah. Dia pulang ngangkot, aku jalan kaki ke kos.

Kurapikan kamar yang sedikit berantakan. Ada beberapa potong pakaian kotor kumasukkan tas untuk dicuci di rumah.
Menyusuri Pandanaran menuju Simpang Lima. Sudah jam 17.30, aku ragu apakah masih ada bus ke terminal. Sesampainya di depan Masjid Baiturrahman aku sedikit lega. Ternyata masih ada bis.
Langit sudah mulai gelap. Kendaraan yang kutumpangi sedikit melaju ditengah-tengah sayup suara adzan yang mulai mengecil tertelan deru.

Sampai terminal 18.10, suasana terminal tak seramai pagi. Tapi lalu-lintas di pertigaan pintu keluar terminal dan Jl. Kaligawe tetap ramai. Kendaraan kecil, mobil pribadi ditambah bus dan truck besar menambah ramai lalu-lintas. Polisi yang berada di dekat pintu masuk/keluar tampak sibuk.

Aku berdiri di dekat traffic light. Lama ku menunggu, tapi tak satupun bus jurusan Jepara yang melintas. Hanya ada bus jurusan dalam kota saja. Jam 17.50 aku sedikit pesimis tentang adanya bus untuk pulang.

Akhirnya ‘dengan nekat’ ku putuskan untuk berjalan (ke arah timur) lebih dari 100m ke tempat biasa bus jurusan Jepara keluar dari terminal (dekat pintu gerbang perum Genuk Indah), padahal biasanya menjelang sore bus jurusan Jepara standby (pindah) ke traffic light pertigaan pintu keluar/masuk tadi. Nekatlah, karena dalam benakku aku harus pulang malam ini.

Sesampainya disana tak kutemukan banyak kendaraan tapi penumpang yang masih setia menunggu. Ku amati tak satupun bus dari Jepara yang masuk terminal Terboyo. Mungkin mereka telah mengoper penumpang di terminal Demak untuk dibawa ke Semarang, begitu sebaliknya. Ah… aku tetap ngotot untuk menunggu!

Pukul 19.10 dari kejauhan sedikit samar kulihat bus jurusan Jepara dari arah tempat aku menunggu tadi (traffic light) sudah sesak oleh penumpang. Dan berhenti di tempat aku menunggu sekarang. Sebagian penumpang ikut turut, rasanya aku ingin turut tapi aku berharap masih ada bus setelah ini. Kondektur tlah berkali-kali berteriak ini bus terakhir, tapi aku tak peduli. Bus perlahan menjauh.

Kurogoh kantong celana jeansku, hanya tersisa Rp.8000,- pas buat ongkos ke Welahan sisa seribu. Aku cek sisa pulsa di hp-ku meski sebenarnya aku sudah tahu pulsa yang tersisa tak cukup buat sms apalagi untuk telpon.

Lama kumenunggu dengan harapan masih ada bus terakhir untukku. Hingga pukul 20.00 aku juga belum temukan bus yang kumaksud. Penumpang yang menunggu lama kelamaan habis. Mereka menaiki bus yang entah apakah itu benar-benar bus yang mereka maksud. Akhirnya tinggal aku seorang diri. Aku duduk di teras rumah makan yang telah tutup beberapa waktu lalu.

Aku capek juga lapar. Aku baru ingat baru sekali aku makan tadi pagi. Itupun karena aku mau minum obat. Kalo nggak minum obat? Entahlah. Ada warung ‘kucingan’ di pinggir jalan. Ingin rasanya mengisi perut ini, tapi rasanya tak mungkin. Kalo aku makan, maka aku tak biasa pulang. Hikz..

Aku sedikit menyesal. Mengapa aku tak menunggu bus dimana pertama kali aku menunggu bus tadi. Teringat aku punya teman di daerah Genuk, dengan begitu aku bisa bermalam ditempatnya dan besok pagi baru aku pulang. Harapan aku bermalam di Genuk 15%. Akan kucari wartel untuk menghubungi temanku ini.

20.30 kuberjalan menuju pertigaan Genuk (Jl. Kaligawe – Jl. Woltermonginsidi) Hanya bus jurusan Jakarta & Surabaya yang melintas. Kalo aku naik bus jurusan Surabaya aku bisa turun di Trengguli. Kalo harus naik bus jurusan Kudus/Surabaya kenapa nggak dari tadi aja!! Nanti ajalah, aku coba cari jawaban setelah di pertigaan Genuk.

Sesampainya disana aku tak menemukan wartel. Mungkin ada tapi aku tak cermat. Aku hampiri seorang laki-laki yang tampak sedang menunggu bus di dekat pos polisi. Aku dekati dan bertanya kemana dia mau pergi, dia jawab mau ke Kudus. Dia juga tanya padaku mau kemana, ke Welahan jawabku.

Satu bus jurusan Surabaya melintas. Aku tanya ke dia kenapa nggak naik bus itu? Dia bilang cari PATAS, lebih nyaman begitu alasannya. Benar-benar orang yang memperhatikan kenyamanan. Kalo aku? Sesuai kantong lah, he..he..he..

Pukul 20.10. sambil lihat jam dia bilang nanti masih ada satu (PATAS). Benar apa yang dia katakan, tak lama berselang PATAS Nusantara terlihat, diapun berdiri bersiap untuk naik. Bagaikan sihir aku terbawa untuk ikut serta naik PATAS. Dengan modal nekat aku bisa turun di Trengguli pikirku. Laki-laki tadi duduk di bangku tengah sedangkan aku langsung mencari bangku kosong paling belakang, tempat yang paling aku suka kalo naik bis. Aku duduk di pojok kiri dekat pintu belakang.

Tak salah laki-laki itu bilang. Memang terasa nyaman terlebih oleh tubuhku yang lelah. Terlihat dari tempat aku duduk, mereka-mereka termasuk orang yang ber-class. Setidak-tidaknya bukan kelas ekonomi. Beginilah enaknya duduk dibelakang bisa melihat-lihat penumpang he..he..he... Aku tak tahu persis sebelum singgah di Semarang bus ini dari mana, entah dari Jogja aku juga nggak tahu.

Di seberang kananku, sepasang muda-mudi sedang tidur kelelahan. Ntah saudara, kakak beradik, teman atau pasangan muda aku juga tak tahu. Wajah mereka terlihat damai dalam tidur. Ingin rasanya kupejamkan mata sambil menikmati nyamannya perjalanan juga istirahatkan tubuh yang lelah. Aku coba, aku tak bisa. Meski aku bisa pejamkan mata aku tak dapat menikmatinya.

Terbayang, aku harus turun di Trengguli. Aku harus memikirkan perjalananku selanjutnya nanti. Kondektur belum menarik ongkos. Ntah berapa yang harus kubayar. Kurogoh uang disaku belakang jeansku. Kuhitung. Ada empat lembaran, satu lembar lima ribuan dan tiga lembar uang seribu. Akan kubayar dengan uang ini. Jika tak cukup? Mau nggak mau aku harus membayar sejumlah uang yang ada atau …, ntahlah.
Laki-laki di seberangku terbangun. Memainkan hp-nya, sedangkan sang perempuan masih tertidur lelap.

Kondektur berjalan ke belakang. Setelah menarik ongkos laki-laki yang naik bersamaku tadi ia menghampiriku. Aku sebutkan dimana aku berhenti dan tanyakan berapa ongkosnya. Lima ribu, jawab kondektur. Ku serahkan lembar lima ribuan. Kondektur menyalakan lampu diatasku untuk memastikan, lalu ia matikan dan kembali ke depan lagi.

Ongkos tinggal tiga ribu rupiah, buat ongkos ojeg dari Trengguli ke Welahan rasanya mustahil. Dari Trengguli aku bisa nebeng orang ke Welahan, atau aku harus jalan kaki (lagi) ?!! Memasuki kota Demak satu dua orang penumpang turun.

Hampir 22.00 aku tiba di Trengguli. Masih ada ojeg yang siap mengantarkan penumpangnya. Dengan jalan sedikit agak cepat aku tinggalkan (pertigaan) Trengguli. Hingga aku tak sempat dengarkan tukang ojeg yang menawarkan jasa. Beberapa meter dari jembatan seorang Ibu mengendarai motor menghentikanku, menawarkan tumpangan. Rumah Ibu itu tak jauh dari sini, jadi aku dapat tumpangan beberapa ratus meter. Aku ucapkan terima kasih padanya saat aku harus turun.

Ku lanjutkan perjalananku dengan jalan kaki. Beberapa kendaraan truk melintas dengan kecepatan yang lumayan, tak mungkin aku memaksanya untuk berhenti agar aku bisa ikut menumpang. Dari kejauhan terdengar suara dan kulihat lampu motor, kuberdiri di tepi aspal sambil melambaikan tangan isyaratkan aku butuh tumpangan. Menurunkan kecepatanpun tidak apalagi untuk berhenti. Kendaraan pick-up yang melintas beberapa pun tak menghiraukan. Aduh… capek sekali rasanya

Rumah-rumah dipinggir jalan pun terlihat sepi, hanya beberapa lampu rumah yang menyala. Mungkin sudah terlelap. Warung dipinggir jalan ada yang masih buka, seorang penjaga dan tayangan televisi yang menemaninya.

Ketika dari kejauhan terlihat kendaraan yang akan melintas aku hidupkan layar hp. Beri isyarat bahwa aku perlu tumpangan. Tapi tak ada yang memperdulikanku. Aku semakin pesimis saat harus melewati kuburan yang berada di tepi kiri kanan jalan. Sepi dan gelap. Bukannya aku takut, tapi jika aku minta tumpangan disini aku tak akan dapat tumpangan, mereka pasti mengira aku yang nggak hehe

Waduh.. biarlah aku terus berjalan. Kendaraan roda dua banyak yang melintas, aku coba berhentikan beberapa diantaranya, tak satupun berhenti. Berlalu begitu saja. Rasanya aku ingin berteriak tuk memanggil tapi batin ini terlalu lelah hingga aku lebih memilih beri isyarat dengan lambaian lewat lampu layar hp. Battre hp menunjukkan low battery.

Akupun tetap berjalan dan terus berjalan. Hampir dekat SMPN 1 Mijen Hp mati. Jalanan begitu gelap hanya terang jika ada kendaraan yang melintas. Dan mustahil rasanya aku akan dapat tumpangan ditempat yang sepi dan gelap. Hampir pasti kendaran yang melintas dengan kecepatan tinggi lebih-lebih kondisi jalan yang begitu lapang.

Aku tak tahu saat ini pukul berapa, tapi aku sempat lihat jam di hp sebelum mati tadi. Jam 23.40. Mungkin sekarang pukul 00.00. Hampir dua jam pula aku berjalan. Akhirnya aku sampai di Welahan. Aku mampir ke warnet AYU komplek ruko terminal Gedangan. Aku beli satu botol minuman bersoda dan tanyakan apakah ada lowongan pekerjaan di warnet ini. Sayang sekali, tak ada lowongan, ingin rasanya aku dapat kerjaan sambilan untuk isi liburan satu bulan ini. Tepat satu bulan lagi (08/09) perkuliahan dimulai.

Selesai minum dan bayar aku pergi. Aku tak tahu jam berapa aku tiba di Welahan, aku tak sempat lihat jam di warnet tadi. Yang pasti hari telah berganti. Aku berjalan menuju rumah. Sambil jalan aku berfikir tak mungkin aku mengetuk pintu jam segini. Selain mengganggu tetangga, orang rumah pasti sedang tidur pulas ditambah jarak kamar yang tak dekat dengan pintu depan. Meski aku ketuk, kemungkinan kecil ada yang terbangun. Aku hubungi lewat hp? Hpku kan nggak ada pulsanya lagipula juga mati.

Akhirnya aku putuskan ‘bermalam’ di Masjid dekat rumah. Sebelum tidur, aku Isya’ dulu. Di masjid ada seorang bapak yang tidur. Aku pilih letak tidur di dekat pintu. Tak ada karpet hanya beralaskan keramik berbantal tas, terasa dingin sekali. Tidurku tak nyenyak banyak nyamuk. Ada seorang bapak masuk dengan menggeser pintu di dekatku, aku terbangun. Dengan reflek aku duduk. ‘apakah ini sudah menjelang Shubuh?’ tanyaku dalam hati. Tapi kulihat bapak tadi mengambil posisi tidur tak jauh dari bapak yang telah tidur saat aku datang tadi.

Aduh… belum Shubuh rupanya, aku lanjutkan lagi tidurku. Aku ingin istirahatkan batinku yang letih oleh hari yang meletihkan.
Continue Reading