Sore

Sore ini…
Diam dalam keramaian
Sore ini…
Berkata batinku di kesunyian
Lelah dalam diam…
Mengenang yang karam
Bisiknya begitu nyata
Hujamkan tutur asmara
Terbayang riang sang pujaan di kejauhan
Tak sadari luka karenanya
Meski tau, kurasa ia tak mengerti
Mungkin inilah yang ia bayangkan akanku
Menjauh dan menjauh
Sesalkan jujurku pada cinta
Selamat jalan Sayang, kau telah pergi
Jangan kembali tanpa cinta, jika kau pergi tanpa cinta
Ku ucap maaf untuk terakhir
Aku tak kan bisa buatmu jatuh hati
Karena hidupmu penuh cinta
Tanpaku…
08.04.08
17.44
Continue Reading

Insomnia dan Persadaku


Hingga pukul 01.40 ku belum bisa pejamkan mata. Tak sengaja mataku tertuju pada deretan buku-buku. Kuambil buku angkatan “PERSADA” yang tersusun berdiri bersama catatan dan tulisan lain. Ku buka buku angkatan itu, terlihat senyum kawan-kawan yang penuh optimis. Ku pandangi foto-foto kalian, sekedar nostalgia. Rindu rasanya bila mengingat dan membayangkan masa itu. Meski aku tak mengenal kalian satu persatu. Suka duka saat sendiri atau bersama yang kini indah dalam kenangan.

Ku ambil hp-ku, dengan ‘private number’ ku coba menghubungi beberapa nomer kawan yang tertera di buku. Sebagian besar nomer itu kini sudah tidak aktif lagi. Sudah ganti nomer. (gonta-ganti nomer kaya ganti celana hehe…)

Ku buka halaman demi halaman, kulihat wajah-wajah yang kini tak terlihat. Hingga berhenti di satu halaman. Ku pandang foto di pojok kiri halaman (bukan Mr. Hutagaol hehe,.), wajah ayu yang terlihat disana. Sahaja namun terlihat anggun. Gimana kabarmu sekarang? Aku ingin komunikasi kita berjalan baik.

Teringat saat aku dan dia pertama bersua di hari terakhir di AIS. Berpisah untuk bertemu.
3 Juni 2006, aku masih ingat hari itu. Kini kutak tahu kabarnya. Nomer hp-nya sudah tak aktif, aku tak tahu kapan tepatnya.
Diantara kawan-kawan bila ada yang tahu, mohon kiranya untuk membantu. Yang pasti setelah teman-teman tahu siapa dia?

02.11
Sun 11 May 2008

isi comment ya bro..
Continue Reading

Kebahagiaan, Ada Dimana?

KALAU kita menyadari sejenak apa yang terjadi di sekeliling, tentu akan merasakan sebuah aliran kekuatan yang dahsyat dari pribadi-pribadi yang ada. Ada tukang batu yang rela bekerja sampai malam mengerjakan galian pipa, ada banyak sopir angkutan umum bersaing mengejar setoran, ada banyak pejabat korupsi di sana sini dari yang mulai jutaan sampai triliunan rupiah, ada konflik di sana sini merebutkan kursi kepemimpinan sebuah lembaga negara, ada orang yang mengejar hadiah jutaan rupiah sebegitu rupa sehingga orang lain tidak diberi kesempatan, dan masih banyak lagi peristiwa yang kita alami setiap harinya.

Dalam wawancaranya dengan seorang psikiater anggota American Board of Psychiatry and Neurology, Howard Cutler, MD, pemimpin politik dan spiritual bangsa Tibet, Dalai Lama keempat belas menyebut bahwa fenomena atau gejala ini merupakan gerak hidup manusia menuju kebahagiaan.

Gerak ini, menurut pemilik nama asli Tenzin Gyatso, sudah dibaca dan dirumuskan sejak lama oleh para filsuf sejak Aristoteles sampai Willliam James. Mereka berpendapat bahwa tujuan akhir keberadaan atau eksistensi manusia di dunia ini adalah untuk mencari kebahagiaan. Sayang, kecenderungan terbesar manusia dari jaman ke jaman adalah mementingkan diri sendiri serta mau menang sendiri dalam mencapai kebahagiaan itu.

Padahal, menurut Dalai Lama, justru sebaliknya, orang yang mementingkan diri sendiri, menjauhkan diri dari pergaulan, selalu cemas, iri dan membenci orang lain adalah orang yang tidak bahagia.

“Orang yang bahagia umumnya lebih mudah bergaul, luwes, kreatif, penyayang, pemaaf, murah hati, selalu bersedia mengulurkan bantuan untuk orang lain dan tidak sombong,” ujar Dalai Lama.

Cenderung Tamak

Banyak orang berpikir bahwa dengan memiliki jabatan tinggi, kursi kepemimpinan di sebuah lembaga tinggi, pendidikan tinggi, uang yang banyak dan segala macam kepuasan lain adalah faktor-faktor yang bisa membahagiakan.

Dalai Lama menyebutkan, kekayaan, kepuasaan atas jabatan tertentu atau kemuliaan, kesehatan, persahabatan, kepuasaan akan pengetahuan, pencerahan atas sebuah pandangan spiritual tertentu bisa jadi menyebabkan kita bahagia.

Namun, menurut Sr. Seraphine OSF, itu bukan bentuk kebahagiaan sejati. “Kebahagiaan sejati terletak di dalam diri kita sendiri,” ujar Pemimpin Wisma Samadi Emaus, Jakarta.

Keinginan kita untuk mengejar segala sesuatu semisal uang, barang-barang tertentu, jabatan, pesahabatan, penampilan yang seksi, dan lain-lain selalu tidak akan habis.

Ketika keinginan yang satu terpenuhi, keinginan yang lain akan muncul. Begitu seterusnya. Kalaupun terpenuhi semua keinginan itu, menurut Seraphine itu hanya akan membawa ke kebahagiaan yang semu. “Karena hanya berlangsung sementara. Sesudah semuanya dipeluk, dimiliki, lantas mau apa? Kosong hati ini rasanya,” ujarnya membagi pengalaman.

Bahwa manusia selalu memiliki keinginan, bagi teolog lulusan University of Poona India, Alexander Dirjosusanto itu dianggapnya wajar. Sayangnya, kecenderungan umum dari kita adalah selalu tidak puas dengan apa yang sudah kita capai. Manusia cenderung tamak.

“Orang sering kali merasa gelisah pada apa yang semestinya tidak perlu digelisahkan,” jelasnya. Mungkin seseorang sudah cukup hanya dengan menggunakan telepon genggam seharga 300 ribu. Tapi, karena gengsi atau hanya sekedar ingin, lalu membeli yang harganya tiga juta rupiah.

Begitu tamaknya manusia, ada sebuah sindiran yang begitu tajam berbunyi ‘Biarpun seluruh dunia menjadi miliknya, manusia akan meminta yang lebih lagi. Bahkan seluruh jagat raya ini’.

Bersyukur Lebih Awet

“Satu-satunya obat untuk menjauhi sifat tamak adalah sikap untuk selalu bersyukur,” ungkap Dalai Lama kepada Howard. Langkah ini sangat efektif karena pada dasarnya hal-hal material tidak bisa dijadikan ukuran kebahagiaan seseorang. Tidak ada jaminan bahwa kekayaan saja dapat memberi Anda kebahagiaan atau kepuasaan yang Anda cari.

“Apalagi, perasaan puas kita sangat dipengaruhi oleh kecenderungan untuk melakukan pembandingan,” ujar Tenzin. Setiap kali, kita cenderung melihat dan merasa orang lain lebih beruntung dari diri kita. Padahal kita pun sebenarnya beruntung.

Ketika melihat tetangga mendapat hadiah jutaan rupiah, kita lalu berupaya supaya mendapat hadiah yang sama. Saat orang lain punya telepon genggam, kita berupaya mendapatkannya. Memang kepuasaan akan terasa. Namun hanya sebentar. Kalau tidak mendapat, kekecewaan dan frustasi yang didapat. Kita menganggap Tuhan tidak adil dan sebagainya.

“Maka, kalau kita hendak membandingkan diri dengan orang lain, bandingkanlah dengan mereka yang kurang beruntung dan merenungkan semua yang kita miliki,” jelas Alex.

Dalai Lama cerita kepada Howard tentang sejumlah penelitian. Dalam sebuah studi di Universitas of Wisconsin, Milwaukee, AS, sejumlah wanita diminta melihat gambar-gambar kondisi hidup yang sangat buruk di Milwaukee di sekitar abad ke-20.

Mereka juga diminta membayangkan dan menulis tragedy-tragedi pribadi seperti terbakar, cacat seumur hidup. Sesudah menyelesaikan latihan, para wanita ini diminta menilai mutu hidup mereka sendiri. Latihan ini menghasilkan suatu peningkatan rasa puas atas hidup mereka masing-masing.

Sebuah eksperimen lain di State University of New York, Buffalo, para subyek diminta menyelesaikan kalimat “Saya bersyukur karena saya bukan…” Sehabis lima kali mengulang latihan ini, para subyek menyatakan mengalami peningkatan nyata dalam rasa puas mereka terhadap hidup.

Kelompok subyek lain diminta menyelesaikan kalimat “Andaikata saya menjadi…” Kali ini eksperimen ini menyebabkan para subyek merasa kurang puas dengan hidup masing-masing.

Penelitian-penelitian ini menurut Dalai Lama dilakukan untuk menunjukkan bahwa tingkat kepuasaan seseorang terhadap hidupnya dapat ditingkatkan hanya dengan mengubah perspektif atau sudut pandang orang. “Dalam hal ini sikap mental kita menjadi penentu utama apakah kita mau bahagia atau tidak,” ujar sang biku.

Baik Alex maupun sang biku menyebut bahwa kebahagiaan ditentukan oleh pikiran seseorang sendiri ketimbang oleh peristiwa-peristiwa luar dan hal-hal material.

Saya bisa bahagia karena dalam diri saya punya persepsi keadaan sekarang ini sudah membahagiakan saya. Bukan saya bahagia bila sudah punya ini atau itu, kalau tidak punya saya tidak bahagia. Menurut Alex, semua hal yang kita miliki entah itu kekayaan, kesehatan, persahabatan, jabatan tidak akan memberi dampak yang membahagiakan yang berkepanjangan tanpa sikap mental yang benar. “Paling hanya memberi rasa senang sesaat,” ujar Pastor asal Promasan, Yogyakarta ini.

Sebagai contoh, jika Anda menyimpan kebencian atau kemarahan yang mendalam, pikiran tersebut akan merusak kesehatan Anda. Dengan demikian merusak salah satu prasyarat kebahagiaan. Begitu pula jika Anda tidak bahagia dan bawaannya hanya kesal saja, kesehatan tubuh tidak banyak artinya.

Sebaliknya, Jika Anda dapat mempertahankan pikiran yang tenang, damai, tenteram, Anda dapat menjadi orang yang sangat bahagia meskipun kesehatan Anda buruk.

Alex menegaskan, makin tinggi tingkat ketenangan pikiran kita, makin besar kedamaian yang kita rasakan, makin besar kemampuan kita menikmati hidup yang bahagia dan menyenangkan.

Dalai Lama menambahkan,” Selama Anda tidak pernah menjalani disiplin batin yang bisa mendatangkan kedamaian pikiran, tidak peduli kelimpahan materi atau kondisi yang Anda miliki, semua itu tidak akan pernah memberi Anda rasa sukacita dan bahagia yang Anda dambakan. Sebaliknya, bila Anda memiliki batin yang terpuaskan, pikiran yang tenteram dan kemantapan sampai batas tertentu, bahkan jika Anda memiliki bermacam kelengkapan lain yang biasanya menjadi prasyarat kebahagiaan, Anda masih mungkin menjalani hidup bahagia dan menyenangkan,”.

Ngapain Ngoyo?

Dalai Lama mengatakan bahwa apakah kita bahagia atau tidak tegantung persepsi kita atas hidup yang kita jalani. Kalau kita mau bersyukur dan puas atas apa yang kita kerjakan dan kita peroleh, dengan sendirinya sikap itu akan membahagiaan kita. Dengan kata lain, sebenarnya kebahagiaan dapat dicapai lewat latihan mental.

bahwa upaya untuk mencapai hal-hal yang kita inginkan itu sebagai sesuatu yang tidak baik. “Bahwa kita bekerja supaya bisa membeli rumah, pakaian dan kebutuhan lain itu adalah normal. Yang tidak normal adalah bila kita terobsesi dan begitu ambisius seolah hidup hanya untuk memenuhi seluruh keinginan itu,” ujar pemenang hadiah Nobel perdamaian tahun 1989 ini.

Alex menyebutkan, bahwa istilah Jawa sakmadyo (secukupnya) adalah kata tepat untuk itu. Bila kita sudah cukup terbantu dengan memiliki mobil kijang, kenapa lagi harus membeli Mercedes. Secukupnya ini akhirnya akan membawa kita pada sikap bersahaja. Kita berupaya karena memang hal itu perlu diupayakan. Sejauh mana perlu, itu harus ditelusuri dari motivasi kita.

Saya mau beli mobil Honda atau Mercedes. Secara fungsional Honda pun cukup, tapi ternyata gengsiku mengatakan aku perlu Merci. Nah, mana yang lebih penting buat Anda, fungsi atau gengsi Anda?

Selain memenuhinya dengan tidak ngoyo (jawa= ambisius) atas apa saja yang kita inginkan, Dalai Lama menyebut bahwa teknik untuk bisa berbahagia adalah dengan menghargai apa yang sudah kita miliki sekarang.

Alex menambahkan, sikap seperti ini bisa kita lihat dalam kebiasaan orang Jawa. Dalam suatu kecelakaan ada yang mengatakan “Untung, telinga saya saja yang lecet…” atau “Untung hanya kaki saya yang buntung, coba kalau ……”

Berpikir optimis semacam merupakan sikap bahwa kita bisa menghargai keadaan yang sudah kita terima. Penghargaan ini pada akhirnya memunculkan sikap syukur, terima kasih, bahwa kita masih beruntung.

Perlu Kebebasan Batin

Menurut Sr. Seraphine, untuk mendapat kebahagiaan, kita perlu mengatur waktu (time manajemen). Dari 24 jam hidup kita sehari, seberapakah waktu kita luangkan untuk diri sendiri, keluarga, profesi, dan kegiatan social?

Kita perlu mengatur agar semuanya mendapat bagian secara proporsional. Perhatian pada proporsi yang tepat dan seimbang menandakan bahwa kita sendiri sadar, hidup ini tidak hanya untuk mengejar satu hal, uang misalnya.

Kalau semua mendapat bagian, kita akan berbahagia. Dari sela-sela waktu itu, akan baik sekali bila kita selalu terhubung dengan Tuhan dengan doa dalam hati. “Mungkin di saat mengetik, kita ucapkan sebaris doa Tuhan, kasihanilah kami atau yang lain dan itu bisa kita lakukan selama 24 jam waktu kita” ujar biarawati Katolik ini.

Sikap seperti ini akan membantu kita menyadari betapa seluruh upaya yang kita kerjakan sepanjang hari bukanlah semata usaha kita sendiri, melainkan berkat bantuan Tuhan juga.

Mereka yang muslim pun bisa melakukannya dengan model zikir dalam hati menyebut salah satu asma Allah. la ilaha illa Allah (tiada Tuhan selain Allah) atau Allah Hu (Dialah Yang).

Dengan begitu, setiap kali kita mengalami peristiwa entah itu menyenangkan atau tidak, rasa syukur akan selalu muncul. “Batin kita pun akan merasa bebas karena tidak lekat terhadap hal tertentu,” jelas wanita usia 75 tahun ini.

Kelekatan terhadap barang duniawi seperti uang, jabatan, pujian, dan sebagainya sering membuat kita tidak tenteram. Hidup terasa melelahkan karena seluruh daya upaya diforsir untuk mencapai semua itu. Tanda lekat berlebihan terhadap hal-hal itu adalah bila tidak tercapai, kita akan kecewa, sedih, frustasi berkepanjangan.

“Kita perlu punya kebebasan atau kemerdekaan batin supaya ketika barang duniawi milik kita misalnya uang, persahabatan, kesehatan kita hilang, dengan ikhlas kita bisa menerimanya,” jelas Seraphine

Bagaimana Biar Bahagi

* Sadari bahwa kebahagiaan sejati tidak bisa didasarkan pada barang duniawi, melainkan dari dalam diri sendiri.
* Ucapkanlah selalu rasa syukur dan terima kasih pada Tuhan atas segala hal yang kita capai atau kita miliki sekecil apa pun.
* Hargailah semua yang kita miliki dengan memeliharanya, merawatnya, dan mencintainya.
* Bandingkan diri pada mereka yang kurang beruntung dan bukannya pada mereka yang lebih beruntung dari kita.
* Lakukan segala sesuatu secara proporsional. Bila mesti selesai bekerja jam enam, lakukanlah. Bila mesti berhenti makan setelah kenyang, berhentilah.
* Atur waktu Anda secara seimbang; usahakan waktu untuk diri sendiri, keluarga, pekerjaan, dan kegiatan lain mendapat bagian semuanya.

Sumber: http://www.kompas.com
Continue Reading

Cara Mudah Hitung kebutuhan Kalori

APABILA Anda tahu berapa banyak energi yang dibakar oleh tubuh Anda dalam sehari, Anda akan tahu berapa banyak kalori yang diperlukan untuk mempertahankan, menurunkan, atau menaikkan berat badan. Berikut ini sebuah rumus sederhana untuk mulai menyeimbangkan persamaan energi Anda.

Pertama, kalikan berat Anda dengan 11. Hasilnya disebut basal metabolic rate, yakni jumlah kalori minimum yang diperlukan untuk membuat sistem Anda tetap berjalan.

Berikutnya, tentukan tingkat aktivitas Anda lalu kalikan basal metabolic rate Anda dengan persentase yang sesuai di bawah ini. Hasilnya adalah kalori tambahan yang Anda perlukan untuk satu hari.

Tingkat aktivitas Persen
Banyak duduk 30-50
Ringan 55-65
Sedang 65-70
Berat 75-100

Kategori banyak duduk atau sedentary activity merujuk ke banyaknya waktu yang Anda gunakan untuk duduk di rumah menonton televisi, membaca majalah, atau mengobrol lewat telepon. Aktivitas ringan meliputi kesibukan mengurus rumah, memasak, dan berjalan-jalan keliling kampung atau kompleks sehabis makan malam.

Aktivitas sedang meliputi berenang santai atau berjalan cepat tetapi tidak sampai tersengal-sengal waktu diajak bicara. Aktivitas berat meliputi olahraga yang menggenjot jantung seperti berlari atau aerobik.

Tambahkan kedua angka ini, maka Anda mendapatkan total kalori yang Anda butuhkan untuk sehari. Jadi, jika Anda mempunyai berat 190 pound (sekitar 95 kilogram) dengan tingkat aktivitas sehari-hari di ujung bawah skala sedang, Anda akan memerlukan 3449 kalori.

190 x 11 = 2090
2090 x 0,65 = 1359
2090 +1359 = 3449

Namun begitu, angka ini hanyalah sebuah taksiran. Metabolisme Anda dapat diukur secara lebih teliti oleh spesialis fisiologi olahraga atau dokter spesialis penurunan berat badan dan metabolisme.

Sumber: http://www.kompas.com
Continue Reading

Sore di Stasiun Senen

sore hari di stasiun senen,
ada rasa haru yang menyelimuti hati ini
saat ku melintasi dimana kita pernah bertemu
dimana ku harus pergi tinggalkan jakarta dengan satu tanya
tak penting lagi sekarang
ku benar-benar merasa haru, haru yang dalam.
buat mataku berkaca sesaat.
ya, hanya berkaca tak ada linangan.
jujur meski sekarang tak mungkin wujudkan anganku dahulu,
aku rindu suasana kebersamaan yang tercipta.
sore ini ku menemuimu.
18.07.07
Continue Reading

Aku Cinta Kau dan Dia (Curhatku pada Gee)

Gee, mengapa kesempatan kita untuk bertatap muka hanya beberapa saat saja. Padahal aku masih ingin berlama-lama denganmu. Jujur, aku menyimpan satu mimpi, satu angan untuk bisa berdua bersamamu. Meski hanya satu hari. Berjalan, nonton, ngobrol atau apalah yang jelas kita bisa nikmati itu semua.

Aku tak menyalahkan waktu yang terbatas, mungkin waktu yang tepat belum ada.

Seperti pertemuan kita beberapa waktu lalu. Kamu masih seperti dulu, kamu masih cantik. Tuturmu yang membuatku ingin selalu mendengarnya, tak ingin beranjak dari dirimu. Oh.... aku tak ingin bila semuanya berlalu dari benakku. Yang berbeda, mungkin sekarang ku tak bisa ucapkan kata sayang lagi. Meski demikian, jujur aku rindu dengan semua yang pernah ada.
Suasana hening dimalam hari dimana kita biasa lewati batas hari. Ku bisa mendengar cerita-cerita kecil sebagai obat rinduku padamu.

Kamu hadir disaat yang tepat, saat aku butuh teman yang bisa membuka mata ini, yang terus terlarut dalam kesendirian. Juga sikap antiku terhadap wanita namun masih dalam kewajaran, dan sikapku yang tertutup.
Kebersamaan denganmu yang membuatku ingin selalu dekat denganmu, menumbuhkan rasa rindu yang sangat akan kebersamaan itu.

Ya, aku akan cerita ke kamu, tentang problem yang aku alami. Sekedar mengingatkan Gee, kamu tahu kan tentang masa laluku yang 'anti' akan wanita? dan tak heran kalau aku punya masalah tentang cewek.

Ku tarik nafas perlahan dan ku hembuskan kemudian. Sejenak ku terdiam untuk mulai bercerita.

Saat ini aku sedang atau pernah (aku bingung harus bilang apa) dekat dengan cewek. Pertama kali kenal sejak awal puasa tahun 2006 lalu. Aku kenal dia lewat sms nyasar, sama seperti pertama kali aku kenal kamu. Usianya diatasku. Bagiku bukan masalah karena aku lebih senang berteman dengan cewek yang usianya diatasku dan dewasa, kalaupun usianya dibawahku aku harap dia lebih dewasa daripada umurnya. Alasan mengapa aku lebih suka dengan orang yang lebih dewasa karena aku merasa lebih nyaman saja. Upps,. Malah jadi ceramah hehe,.

Awalnya tak ada yang spesial hubunganku dengan dia. Semua berjalan seperti biasa. Saling kirim SMS atau telpon, sekedar tanya kabar juga kesibukan masing-masing. Aku juga ada curhat ke dia tentang masa laluku, keluarga, sikap 'antiku' dan apa yang pernah terjadi dengan kita. Dia pun cerita tentang keluarga, juga pacarnya yang sudah bekerja di luar kota.

Hingga suatu ketika dia ada curhat, kalau hubungan dia dan pacarnya ada problem. Hal yang lumrah bagi orang yang menjalin hubungan apalagi kalau long distance. Rasa saling percaya yang super ekstra dan komunikasi yang lancar harus dipenuhi, dan jangan dekati kata selingkuh.

Suatu ketika di akhir bulan mei 2007, kami berjanji untuk ketemu. Dia datang dengan keponakannya. Ini pertama kalinya aku bertemu dengannya. Jujur Gee, meski kadang aku malas ngobrol atau sekedar basa-basi ke cewek yang belum aku kenal, tapi soal janji ketemu dengan orang atau cewek yang belum aku tau atau kenalpun aku bersedia. Seperti kata kamu dulu yang selalu ku ingat Gee, kalau aku harus berubah. Sekarang aku mulai tak canggung dengan lawan jenis. Mungkin karena lingkungan yang membuat aku berubah. Perlahan tapi pasti perubahan ke arah positif terjadi. Insya Allah. Doain aja.

Setelah pertemuan itu, dia lebih sering kirim SMS atau telpon aku. Akupun belum 'ngeh' dengan perubahan yang terjadi saat itu. Hingga suatu malam di awal bulan juni dia kirim sms yang kurang lebih isinya, semenjak pertemuan denganku, dia ngerasa ada yang mengganjal seolah dia ingin lebih dekat denganku.

Saat itu aku tak tahu bagaimana aku membuat kesimpulan dan mengambil sikap. Akupun bertanya padanya maksud ucapannya itu, aku mau tahu detil pastinya. Mungkin kamu berkesimpulan bahwa dia ada rasa ke aku. Jujur Gee, seumur-umur baru pertama kalinya ada cewek yang mengungkapkan perasaannya ke aku (bukan ge-er Gee, serius), dan yang membuatku bingung adalah statusnya yang sudah punya pacar, aku tak mau memperkeruh suasana. Jika sebatas teman curhat yang berusaha mencari solusi permasalahannya aku tak keberatan. Kamu sendiri sedikit banyak tahu tentang aku dulu seperti apa. Belum pernah menjalin hubungan spesial atau pacaran. Karena bagiku menjadi pemuja rahasia sudahlah cukup.

Pertama kalinya aku mengungkapkan rasa sukaku ke cewekpun ke kamu. Semoga kamu tidak keberatan jika aku mengingat masa lalu itu, karena bagiku yang berlalu tak dapat berlalu begitu saja. Berharap kamu memahami. Maafkan aku Gee.

Alasan mengapa waktu itu tidak berterus terang dan bicara langsung tentang rasa sukaku ke kamu adalah, karena begitu takutnya aku kehilangan kamu. Juga perasaan bingung apakah kamu keberatan dengan caraku --bagaimana aku berusaha untuk lebih dekat dengan kamu-- itu.

Hingga akhirnya aku hanya berani mengungkapkan lewat tulisan yang harus ku bayar mahal sebagai resiko ke-pengecutanku. Yakni kepastian yang lama kunanti, sebuah jawaban pasti. Persahabatanlah yang terbaik untuk kita.

Entah kapan tepatnya aku merasakan apa yang pernah dia katakan padaku. Aku berkesimpulan dari adanya perasaan rindu, perasaan rindu yang sangat hingga timbul rasa takut akan kehilangan. Aku benar-benar jatuh hati Gee.
Meski sama-sama tahu akan adanya rasa itu, belum ada kata resmi adanya something spesial. jalani aja dulu, begitu alasannya.

Tentang status hubunganku dengannya, kami menyebutnya 'yang didepan mata'. Sering kali aku menyinggung 'yang didepan mata' ini. Dia selalu menolak, perlu waktu yang tepat alasannya. Dia katakan padaku, tak hanya aku pria yang dekat dengannya. Ada teman prianya yang tiba-tiba berterus terang ingin menjalin hubungan spsial dengannya, pria ini sudah lama memendam perasaan sukanya. Bahkan ingin menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius. Ditambah lagi hubungan dia dan pacarnya yang masih menyimpan problem.

Aku katakan padanya, kan berusaha untuk siap menerima semua keputusan 'yang didepan mata' demi yang terbaik untuknya. Aku pun rela menangguhkan rasa sayangku demi aku tak kehilangan dia meski cintanya tak berpihak padaku.

Awalnya berjalan baik hingga aku berfikir ini akan berjalan baik seterusnya, terlalu pede dan egois memang. Banyak salah paham yang terjadi selanjutnya. Sebetulnya tak banyak tapi karena efeknya besar maka terkesan banyak. Aku belum bisa kasih detilnya, yang pasti salah paham itu membuatku berubah.

Huh... capek! Namanya cinta segalanya jadi berubah. Aku yang egois, yang hanya ingin tahu jika iya bilang 'iya' jika tidak bilang 'tidak', tak demikian dengan cinta. Seluruh tenaga dan pikiran terkuras, benar-benar tercurah dengan namanya cinta! Ku berusaha menghilangkan salah paham dan tumbuhkan rasa saling percaya antara aku dan dia. Pertama kalinyalah aku dibuat pusing karena cinta seperti ini. Ya, semua harus berubah dan perlu perubahan juga pengorbanan.

Selanjutnya komunikasi aku dan dia tak berjalan baik, itulah yang aku rasakan. Setiap aku mengirim SMS selalu tak ada balasan dari dia. Tidak seperti biasanya dia selalu membalas pesan dariku. Aku pernah menanyakan langsung padanya lewat telpon. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah aku telah berbuat salah, hingga sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat.
"pokoknya ada....nggak tahu....lagi malas ngomong aja....lagi nggak mood....dll."
Bukan jawaban penjelasan yang aku dapat, malahan membuatku bingung.

Aku minta maaf jika telah buat salah padanya. Kamu tahu apa yang dia katakan kepadaku?
"udah bikin enjoy aja...tak usah terlalu dipikirkan...kamu tidak salah..." Begitu mudahnya dia bicara, sedangkan aku dibuat bingung karena tak ada jawaban pasti darinya. Bila demikian, terkadang aku berfikir untuk apa dia ungkapkan perasaannya ke aku waktu itu. Mungkin aku pun tak melibatkan perasaan yang habis terkuras. Cukup menjadi teman dan bersahabat tak perlu ada hati yang terluka.

Seminggu telah berlalu. Selama itulah aku mengirimkan pesan, dan tak satupun yang ia balas. Seminggu yang kunanti terasa sangat panjang. Bagai menanti hujan dimusim kemarau. Bukan maksudku untuk berlebihan, tapi itulah yang kurasa.

Tanpa jawaban pasti kulewati hari-hari. Hingga dimalam ini, aku sadar, aku menerka, yang jalas tak setengah sadar. Aku telah mendapatkan jawaban atas semua diamnya padaku. BAHWA TAK ADA LAGI RINDUNYA PADAKU!

Mungkin dia tak ingin menyakitiku lebih dalam, dan tak ingin membuatku terkapar oleh angan-angan yang terbayang. Dia ingin agar aku sadar bahwa 'yang didepan mata' telah dijawab dengan diamnya.

Yang tak kurelakan, seakan ia mempermainkanku dengan jawaban yang takpernah terucap.
Membangunkan pengemis lapar yang terlelap tidur, setelah terbangun memintanya tidur lagi. Bagaimana rasanya? Sakit memang.

Teringat perkataan dari sebuah novel yang pernah ku baca. Apabila kamu tidak dapat memiliki apa yang kamu cintai, maka cintailah apa yang kamu miliki.
Apa yang aku miliki? Kini tak ada lagi. Kecuali, sebuah kenangan.
Aku cinta kau dan dia.

Continue Reading