Showing posts with label Gee. Show all posts
Showing posts with label Gee. Show all posts

I Just Want to Celebrate

Tiga tahun gue ngejar cinta Gee, gue gak mau bilang kalo cinta ke Gee butuh pengorbanan yang pasti gue berkorban demi cinta gue ke Gee. It’s not same.

Gue pernah ke Jakarta cuma pengen ketemu dia doang, dan gue ketemu dia gak lebih dari 5 menit, mungkin kurang dari satu menit. Kasihan kan? Untung waktu itu belum nge-hits istilah galau.

Dua tahun seminggu yang lalu. Gue nawarin isi hati ke Gee, gak usah nanya apa yang dikasih ke Gee. Yang jelas bukan roti isi selai kacang atau cokelat, tapi gue nawarin diri jadi pacarnya. Semua terjadi apa adanya, tanpa direncanakan.

Sebelumnya udah belasan bulan gue lost contact dengan Gee, dua nomer HPnya tiba-tiba gak bisa dihubungin. Akhirnya lewat chat kita dipertemukan kembali... #tsah Akhirnya komunikasi yang sempat putus bisa nyambung lagi tanpa bantuan lem baja. Seringnya komunikasi membuat obrolan nyambung dan enak, lagi-lagi tanpa penyedap masakan.

Gue nawarin diri jadi pacarnya. Dengan bismillah bareng akhirnya kita mencoba melangkah tu.. wa.. ga... Semua terjadi apa adanya, tanpa direncanakan.

Tepat dua tahun yang lalu. SMS dari Gee bilang kalo ternyata kita mending jadi sahabatan aja, dia udah berusaha ngasih hatinya ke gue. Tapi ternyata tetap nggak bisa. Entah kenapa waktu itu gue bisa nerima dengan ikhlas, gak ada dendam atau sakit hati sedikitpun. Kalimat ”berusaha ngasih hati aku ke kamu” benar-benar ungkapan jujur tulus yang tanpa pertimbangan apa-pun, paksaan apapun bahkan todongan senjata gue rela nerima.

Setelah itu komunikasi tetap lancar, gak ada tragedi aneh-aneh seperti penghapusan blog segala. Penasaran? Nunggu request banyak baru gue posting. Hwahaha... Sampai sekarang meski jarang tukeran kabar apalagi tukeran daleman #eh hubungan tetap baik. Kadang gue nyeplos kangen ke dia kalo lagi chat. Menurut gue wajar saat lo kangen sama orang yang pernah lo sayangi.
Continue Reading

Gee, Happy Birthday


Melangkah mencari arti
Di tiap sisi ruang waktu
Semangatmu jangan pernah padam
Dalam mencari arti cita dan cinta

Hayati tiap hela nafasmu
Jangan menyerah karena peluh
Jangan berhenti karena tlah usai
Melangkahlah dengan lebih matang

Hanya do'a yang dapat kuberi
Do'a dalam alunan hening
Continue Reading

Tiga puluh hari yang lalu, satu pekan kemudian.

Cinta itu harus kotak-kotak ya,Fiq?
Tepat tiga puluh hari yang lalu kutawarkan rasaku pada Gee. Pernah kuungkap sebelumnya, dia mengerti maksudku. Gee tanyakan apa yang kuinginkan atas rasa itu. Namun ku membisu, ku tak bisa ambil sikap. Aku katakan hanya rindu yang aku punya. Aku tak bisa katakan apakah aku punya sayang dan cinta. Jarak yang memisahkanlah yang membuatku tak mampu menjawab. Hanya rindu yang aku punya.

Gee sempat bertanya, ‘emang cinta itu harus keliatan ya Fiq? Kotak-kotak atau gimana?’ aku ngerti apa yang dia maksud. Aku berfikir cinta itu harus nampak, bukan sekedar kata. Aku ingin katakan rasa ini lewat indera. Tak sama dengan rindu, (bisa) cukup hati yang yang merasa.

Hingga hari itu kuberanikan tuk tawarkan rasaku kembali. Siang, berdua komunikasi lewat ha-pe. Dia bilang kaget dengan SMS-ku tadi pagi karena sebelumnya aku sudah katakan padanya, hanya rindu yang aku punya, selebihnya tidak. Aku benarkan hal itu. Ini beralasan, karena ku takut kehilangan dia. Beberapa kali aku sempat lost contact dengannya. ‘semakin ku kejar, semakin kau jauh, aku tak mau kehilangan kamu lagi’. ‘penantian selama tiga tahun mungkin sudah cukup untuk membuktikan’, imbuhku.

Gee bilang, dia merasa nyaman denganku. Dengan do’a berdua mencoba melangkah.

Tujuh hari telah berjalan,.
terasa indah
mencoba melangkah
selami hati
pahami diri

bentuk perhatian yang kuberikan hanya lewat telepon atau chat. Tuk tanyakan kabar juga kesibukannya saat itu. Tak ada yang berbeda dari hubunganku dengan Gee, berjalan biasa.

Pernah suatu hari aku telepon Gee, aku coba tanya alamatnya sekarang. Tak ada jawaban. Awalnya dia tanya untuk apa alamat itu. Aku jawab, siapa tau aku bisa maen ke Jakarta. Entar aja kalo ke Jakarta kita janjian dimana gitu, jawabnya. Dia msih sembunyikan alamatnya. Sempat kutangkap saat itu dia 'trauma'. Entah trauma seperti apa yang dia maksud. Dia tak terus terang padaku.

Setelah berdebat panjang tuk dapatkan alamatnya. Aku tanyakan, 'sampai kapan kamu mau percaya sama aku?' akhir pembicaraan obrolan kami terasa kaku. Setelah itu aku merasa ada yang mengganjal dihati.

Hari berikutnya ada sms dari Gee, isinya:
Dia ucapkan terima kasih atas perhatianku padanya, dia berusaha memberi hatinya buat aku. Dia sudah berusaha, tapi tetap nggak bisa. Juga berharap semoga aku dapatkan wanita yang lebih baik darinya. Juga mohon agar agar jangan paksa paksa hubungan ini lagi. Dia minta maaf karena salah mengartikan nyaman tempo hari, ternyata lebih nyaman hanya sebatas teman.

Kini,.
Mataku berkaca membaca pesan diatas. Memang tak bisa aku paksakan, jika dipaksakan nantinya akan ada sakit.

Untuk Gee, kuhargai keinginanmu tuk membuka hatimu padaku. Meskipun kenyataannya hati itu bukan untukku. Itulah yang terbaik. Tentang wanita yang lebih baik darimu yang kamu maksud itu, (lama kuterdiam). Aku merasa kamulah yang terbaik. Semoga kelak kamu berjodoh pada pria yang sanggup membahagiakan dan menjadi imam bagimu serta anak-anakmu kelak. Amin.
Continue Reading

Kembalinya Melankolia

Kulihat mentari dari balik kaca
Indah nian warnanya
Buatku terdiam, sesaat berkaca
Inginku menyapamu lewat cahayanya
Coba lihat sisa mentari dari kamar saat ini
Masihkah terasa hangatnya
Terlihat salam dariku disana

Dibawah teduh temaram malam
Ditengah kilauan lampu jalan
serasa menemukan kembali yang hilang
kembali merasa karam
Ku butuh kau saat ini
Rasakan rindu yang tak menyudah
Continue Reading

Tak Seindah Asa

Gelapnya malam temani sepi
Yang kini tak seperti biasa
Temani aku lintasai malam
Hatiku gundah hadapi kenyataan
Asa yang tak kunjung datang

Inikah jalan yang mesti kutempuh
Nyanyian pilu iringi rindu
Dekapan yang tinggal bayangan
Rindu menanti yang tak pasti
Iringi jalanku lintasi sepi
Aku kan terus berjalan
Walau tak terarah
Aku kan terus berjalan
Tak kan berhenti hingga kau ucap
I love you ....
Continue Reading

Jantungku Kembali Berdetak

Sekitar pukul 23:40 ada panggilan masuk ke hpku. Nggak ada nomernya alias private number, agak ragu awalnya mau angkat hp. mungkina aja orang iseng setiap diangkat selalu dimatiin pikirku.

Aku angkat aja panggilan itu.
'ini Afiq?' terdengar jelas merdu suara wanita dari seberang,
'ini siapa ya?' suaraku sedikit aku bikin pelan berusaha seksama cari tau siapa yang menelpon
'Gee..' jawabnya singkat
oh my god.!!!!
Seketika jantungku berdegup kencang. Sungguh tak terkira rasanya, hingga aku menulis tulisan ini jantungku masih berdetak kencang. (berlebihan ya? tapi sungguh!)
Aku meulis tulisan ini sambil chat YM, juga ada Gita yang ol.. Wduh... Suara yang lama tak kudengar kini terdengar lagi.

Dia nelpon tanya IP address salah satu provider, sepertinya dia mau setting gprs.
aku bilang gk tau. **bodoh ya..** coba kalo aku tau,. kan bisa kasih tau dia. akhirnya sama-sama seneng
**halah** hehehe.

Trim ya udah nelpon n bisa bikin jantungku berdetak, pertanda bahwa.. ya sudahlah.
Nggak apa-apa nomermu kamu private asalkan hubungan kita tak di private.

Good Night. Have a nice dream.

regards,
me
Continue Reading

Salah Tak Bersalah

Sebenarnya bingung saat ini mau nulis apa. Bingung apa yang mau ditulis. Kebingungan yang ingin ditulis. Tapi bingung apa yang mau ditulis. Bingung kan?

Aku akan mencoba untuk menulis kebingunganku ini. Entah apa ini yang sebenarnya ingin ditulis. Aku juga masih bingung, aku berusaha apa yang kutulis nanti itulah sebenarnya.

Dulu aku pernah katakan kepada orang yang aku anggap dekat denganku, aku katakan bahwa cinta bukan permen karet, sekedar pengisi kekosongan. Ya, ini aku ambil apa yang pernah ditulis oleh Soe Hok Gie. Dan ini pernah atau sempat menjadi prinsipku dalam memandang cinta.

Aku katakan ke dia dengan maksud agar dia percaya bahwa aku benar-benar serius dengan cinta. Sekarang aku baru sadar, ternyata tak mudah memiliki prinsip begitu pula persepsi akan cinta. Bukannya aku muluk-muluk, itulah yang aku inginkan (bukan sok) tapi jika penilaian khalayak berbeda, mohon maaf.

Lama aku tak komunikasi dengan sahabatku ini, sebutlah namanya Gee. nomer hape-nya tak dapat kuhubungi lagi. Pernah aku kirim email tapi tak ada balasan. Aku merasa bersalah. meski sebenarnya aku merasa tak berbuat salah.

note: 20:22 25 Okt 08
Continue Reading

Aku Cinta Kau dan Dia (Curhatku pada Gee)

Gee, mengapa kesempatan kita untuk bertatap muka hanya beberapa saat saja. Padahal aku masih ingin berlama-lama denganmu. Jujur, aku menyimpan satu mimpi, satu angan untuk bisa berdua bersamamu. Meski hanya satu hari. Berjalan, nonton, ngobrol atau apalah yang jelas kita bisa nikmati itu semua.

Aku tak menyalahkan waktu yang terbatas, mungkin waktu yang tepat belum ada.

Seperti pertemuan kita beberapa waktu lalu. Kamu masih seperti dulu, kamu masih cantik. Tuturmu yang membuatku ingin selalu mendengarnya, tak ingin beranjak dari dirimu. Oh.... aku tak ingin bila semuanya berlalu dari benakku. Yang berbeda, mungkin sekarang ku tak bisa ucapkan kata sayang lagi. Meski demikian, jujur aku rindu dengan semua yang pernah ada.
Suasana hening dimalam hari dimana kita biasa lewati batas hari. Ku bisa mendengar cerita-cerita kecil sebagai obat rinduku padamu.

Kamu hadir disaat yang tepat, saat aku butuh teman yang bisa membuka mata ini, yang terus terlarut dalam kesendirian. Juga sikap antiku terhadap wanita namun masih dalam kewajaran, dan sikapku yang tertutup.
Kebersamaan denganmu yang membuatku ingin selalu dekat denganmu, menumbuhkan rasa rindu yang sangat akan kebersamaan itu.

Ya, aku akan cerita ke kamu, tentang problem yang aku alami. Sekedar mengingatkan Gee, kamu tahu kan tentang masa laluku yang 'anti' akan wanita? dan tak heran kalau aku punya masalah tentang cewek.

Ku tarik nafas perlahan dan ku hembuskan kemudian. Sejenak ku terdiam untuk mulai bercerita.

Saat ini aku sedang atau pernah (aku bingung harus bilang apa) dekat dengan cewek. Pertama kali kenal sejak awal puasa tahun 2006 lalu. Aku kenal dia lewat sms nyasar, sama seperti pertama kali aku kenal kamu. Usianya diatasku. Bagiku bukan masalah karena aku lebih senang berteman dengan cewek yang usianya diatasku dan dewasa, kalaupun usianya dibawahku aku harap dia lebih dewasa daripada umurnya. Alasan mengapa aku lebih suka dengan orang yang lebih dewasa karena aku merasa lebih nyaman saja. Upps,. Malah jadi ceramah hehe,.

Awalnya tak ada yang spesial hubunganku dengan dia. Semua berjalan seperti biasa. Saling kirim SMS atau telpon, sekedar tanya kabar juga kesibukan masing-masing. Aku juga ada curhat ke dia tentang masa laluku, keluarga, sikap 'antiku' dan apa yang pernah terjadi dengan kita. Dia pun cerita tentang keluarga, juga pacarnya yang sudah bekerja di luar kota.

Hingga suatu ketika dia ada curhat, kalau hubungan dia dan pacarnya ada problem. Hal yang lumrah bagi orang yang menjalin hubungan apalagi kalau long distance. Rasa saling percaya yang super ekstra dan komunikasi yang lancar harus dipenuhi, dan jangan dekati kata selingkuh.

Suatu ketika di akhir bulan mei 2007, kami berjanji untuk ketemu. Dia datang dengan keponakannya. Ini pertama kalinya aku bertemu dengannya. Jujur Gee, meski kadang aku malas ngobrol atau sekedar basa-basi ke cewek yang belum aku kenal, tapi soal janji ketemu dengan orang atau cewek yang belum aku tau atau kenalpun aku bersedia. Seperti kata kamu dulu yang selalu ku ingat Gee, kalau aku harus berubah. Sekarang aku mulai tak canggung dengan lawan jenis. Mungkin karena lingkungan yang membuat aku berubah. Perlahan tapi pasti perubahan ke arah positif terjadi. Insya Allah. Doain aja.

Setelah pertemuan itu, dia lebih sering kirim SMS atau telpon aku. Akupun belum 'ngeh' dengan perubahan yang terjadi saat itu. Hingga suatu malam di awal bulan juni dia kirim sms yang kurang lebih isinya, semenjak pertemuan denganku, dia ngerasa ada yang mengganjal seolah dia ingin lebih dekat denganku.

Saat itu aku tak tahu bagaimana aku membuat kesimpulan dan mengambil sikap. Akupun bertanya padanya maksud ucapannya itu, aku mau tahu detil pastinya. Mungkin kamu berkesimpulan bahwa dia ada rasa ke aku. Jujur Gee, seumur-umur baru pertama kalinya ada cewek yang mengungkapkan perasaannya ke aku (bukan ge-er Gee, serius), dan yang membuatku bingung adalah statusnya yang sudah punya pacar, aku tak mau memperkeruh suasana. Jika sebatas teman curhat yang berusaha mencari solusi permasalahannya aku tak keberatan. Kamu sendiri sedikit banyak tahu tentang aku dulu seperti apa. Belum pernah menjalin hubungan spesial atau pacaran. Karena bagiku menjadi pemuja rahasia sudahlah cukup.

Pertama kalinya aku mengungkapkan rasa sukaku ke cewekpun ke kamu. Semoga kamu tidak keberatan jika aku mengingat masa lalu itu, karena bagiku yang berlalu tak dapat berlalu begitu saja. Berharap kamu memahami. Maafkan aku Gee.

Alasan mengapa waktu itu tidak berterus terang dan bicara langsung tentang rasa sukaku ke kamu adalah, karena begitu takutnya aku kehilangan kamu. Juga perasaan bingung apakah kamu keberatan dengan caraku --bagaimana aku berusaha untuk lebih dekat dengan kamu-- itu.

Hingga akhirnya aku hanya berani mengungkapkan lewat tulisan yang harus ku bayar mahal sebagai resiko ke-pengecutanku. Yakni kepastian yang lama kunanti, sebuah jawaban pasti. Persahabatanlah yang terbaik untuk kita.

Entah kapan tepatnya aku merasakan apa yang pernah dia katakan padaku. Aku berkesimpulan dari adanya perasaan rindu, perasaan rindu yang sangat hingga timbul rasa takut akan kehilangan. Aku benar-benar jatuh hati Gee.
Meski sama-sama tahu akan adanya rasa itu, belum ada kata resmi adanya something spesial. jalani aja dulu, begitu alasannya.

Tentang status hubunganku dengannya, kami menyebutnya 'yang didepan mata'. Sering kali aku menyinggung 'yang didepan mata' ini. Dia selalu menolak, perlu waktu yang tepat alasannya. Dia katakan padaku, tak hanya aku pria yang dekat dengannya. Ada teman prianya yang tiba-tiba berterus terang ingin menjalin hubungan spsial dengannya, pria ini sudah lama memendam perasaan sukanya. Bahkan ingin menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius. Ditambah lagi hubungan dia dan pacarnya yang masih menyimpan problem.

Aku katakan padanya, kan berusaha untuk siap menerima semua keputusan 'yang didepan mata' demi yang terbaik untuknya. Aku pun rela menangguhkan rasa sayangku demi aku tak kehilangan dia meski cintanya tak berpihak padaku.

Awalnya berjalan baik hingga aku berfikir ini akan berjalan baik seterusnya, terlalu pede dan egois memang. Banyak salah paham yang terjadi selanjutnya. Sebetulnya tak banyak tapi karena efeknya besar maka terkesan banyak. Aku belum bisa kasih detilnya, yang pasti salah paham itu membuatku berubah.

Huh... capek! Namanya cinta segalanya jadi berubah. Aku yang egois, yang hanya ingin tahu jika iya bilang 'iya' jika tidak bilang 'tidak', tak demikian dengan cinta. Seluruh tenaga dan pikiran terkuras, benar-benar tercurah dengan namanya cinta! Ku berusaha menghilangkan salah paham dan tumbuhkan rasa saling percaya antara aku dan dia. Pertama kalinyalah aku dibuat pusing karena cinta seperti ini. Ya, semua harus berubah dan perlu perubahan juga pengorbanan.

Selanjutnya komunikasi aku dan dia tak berjalan baik, itulah yang aku rasakan. Setiap aku mengirim SMS selalu tak ada balasan dari dia. Tidak seperti biasanya dia selalu membalas pesan dariku. Aku pernah menanyakan langsung padanya lewat telpon. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah aku telah berbuat salah, hingga sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat.
"pokoknya ada....nggak tahu....lagi malas ngomong aja....lagi nggak mood....dll."
Bukan jawaban penjelasan yang aku dapat, malahan membuatku bingung.

Aku minta maaf jika telah buat salah padanya. Kamu tahu apa yang dia katakan kepadaku?
"udah bikin enjoy aja...tak usah terlalu dipikirkan...kamu tidak salah..." Begitu mudahnya dia bicara, sedangkan aku dibuat bingung karena tak ada jawaban pasti darinya. Bila demikian, terkadang aku berfikir untuk apa dia ungkapkan perasaannya ke aku waktu itu. Mungkin aku pun tak melibatkan perasaan yang habis terkuras. Cukup menjadi teman dan bersahabat tak perlu ada hati yang terluka.

Seminggu telah berlalu. Selama itulah aku mengirimkan pesan, dan tak satupun yang ia balas. Seminggu yang kunanti terasa sangat panjang. Bagai menanti hujan dimusim kemarau. Bukan maksudku untuk berlebihan, tapi itulah yang kurasa.

Tanpa jawaban pasti kulewati hari-hari. Hingga dimalam ini, aku sadar, aku menerka, yang jalas tak setengah sadar. Aku telah mendapatkan jawaban atas semua diamnya padaku. BAHWA TAK ADA LAGI RINDUNYA PADAKU!

Mungkin dia tak ingin menyakitiku lebih dalam, dan tak ingin membuatku terkapar oleh angan-angan yang terbayang. Dia ingin agar aku sadar bahwa 'yang didepan mata' telah dijawab dengan diamnya.

Yang tak kurelakan, seakan ia mempermainkanku dengan jawaban yang takpernah terucap.
Membangunkan pengemis lapar yang terlelap tidur, setelah terbangun memintanya tidur lagi. Bagaimana rasanya? Sakit memang.

Teringat perkataan dari sebuah novel yang pernah ku baca. Apabila kamu tidak dapat memiliki apa yang kamu cintai, maka cintailah apa yang kamu miliki.
Apa yang aku miliki? Kini tak ada lagi. Kecuali, sebuah kenangan.
Aku cinta kau dan dia.

Continue Reading